Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Reproduksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan Reproduksi. Tampilkan semua postingan

Senin, 09 Agustus 2010

Situs Porno Timbulkan Depresi

SUKA mengakses situs porno? Kurangi sekarang juga. Penelitian di Melbourne mendapati orang yang sering mengunjungi situ porno dan seks maya, rawan mengalami depresi, kegelisahan dan stres.

Penelitian yang dilakukan oleh Swinburne University of Technology di Melbourne menemukan, sudah hal jamak jika pecandu seks maya biasa meluangkan waktunya seharian penuh memuaskan hobbinya itu.
Kebanyakan user meluangkan waktu lebih dari 12 jam dalam sepekan, memelototi layar komputer untuk melakukan kegiatan chatting, ikut bergabung di seks maya dengan webcam, mendownload video dan foto dari situs porno serta mengirim email erotis.
Lebih dari 65 persen dari 1.325 laki-laki Amerika dan Australia yang disurvey mengatakan bertemu darat dengan kenalannya di internet. Orang yang menikmati seks maya ini rata-rata berpendidikan tinggi.
Marcus Squirrell, mahasiwa studi doktoral di Swinburne University of Technology Melbourne mendapati rendahnya kesehatan mental responden yang disurvey.
Lebih dari 27 persen dari mereka menderita depresi ringan, hingga mengkhawatirkan. Sedangkan sisanya 30 persen menderita kegelisahan dan 35 persen stres berat. Semakin tinggi aktivitas seks maya, level depresi dan kegelisaan juga semakin meningkat.(fir)

sumber :http://www.tribun-timur.com/read/artikel/122202/Situs_Porno_Timbulkan_Depresi

Kamis, 02 Juli 2009

PERINGATAN HARI ANTI NARKOBA INTERNASIONAL


Setiap tanggal 26 Juni, kita memperingati Hari Anti Narkoba Internasional. Begitu pula dengan sebuah organisasi yang dibentuk oleh JEN (Jaringan Epidemiologi Nasional) yakni HEART (Health Education Of Reproduction Teenagers). Perayaan Hari Anti Narkoba Internasional yang dilaksanakan oleh HEART pada tahun ini terbagi atas dua sesi. Sesi pertama yaitu pembukaan yang dibuka dengan Sosialisasi ke SMA 21 pada tanggal 26 Juni 2009 dan Sesi kedua yang merupakan acara inti sekaligus penutup dari rangkaian acara perayaan HANI. Pelaksanaan Sosialisasi yang diadakan di SMA 21 terlaksana dengan baik meskipun pesertanya hanya sekitar 50-60 orang.

Kemudian pada hari Ahad tepatnya tanggal 28 Juni 2009 di depan Adipura, kami mengadakan kampanye HANI dengan pembagian stiker, poster, pamflet dan bendera kecil yang bertuliskan himbauan untuk menghindari Narkoba dan menghentikan peredaran gelap Narkoba sebagaimana yang marak terjadi belakangan ini. Kampanye ini berjalan dengan baik dan sukses. Kami memulai kegiatan ini mulai pukul 09.30-10.30. Kegiatan kampanye ini cukup menarik perhatian dari para pengguna jalan. Kampanye ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian terhadap pencegahan Narkoba di Indonesia. Adapun yang terlibat dalam kegiatan ini, yakni Andi Muh. Hidayat, Rizal Haryanto, Ika Wirya, Faridha Almira, Rini Aryani, Elpira Asmin, Iznha Nurdiyanti, Ahmad Rishadi, Mutia, Mega Marindrawati R serta beberapa orang senior angkatan 2007 dan 2006.

Selasa, 23 Juni 2009

ABORSI, "WANITA YANG RUGI"

ISU KESEHATAN!!!!!!
Kesehatan reproduksi menurut WHO adalah suatu keadaan fisik, mental dan sosial yang utuh, bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi serta prosesnya. Atau Suatu keadaan dimana manusia dapat menikmati kehidupan seksualnya serta mampu menjalankan fungsi dan proses reproduksinya secara sehat dan aman.
Berdasarkan definisi dari Departemen Kesehatan, diketahui bahwa kesehatan reproduksi adalah keadaan sehat secara menyeluruh serta proses reproduksi. Dengan demikian kesehatan reproduksi bukan hanya kondisi bebas dari penyakit, melainkan bagaimana seseorang dapat memiliki kehidupan seksual yang aman dan memuaskan baik sebelum menikah maupun sesudah menikah.
Berdasarkan pengertian kesehatan reproduksi diatas maka dapat diketahui bahwa seseorang itu juga sehat bila ia memiliki kehidupan seksual yang aman dan memuaskan serta mampu menjalankan proses reproduksinya secara sehat dan aman.
Di era globalisasi seperti sekarang ini, telah banyak terjadi penyimpangan dalam kaitannya dengan kesehatan reproduksi. Salah satu contoh yang paling konkrit yang sering kita dengar dikalangan mahasiswa adalah aborsi. Aborsi sudah menjadi suatu hal yang lumrah bagi mereka yang sudah melakukan hubungan namun belum merasa mampu untuk membiayai anaknya kelak jika lahir.
Sebenarnya, pihak wanitalah yang paling banyak dirugikan dalam hal aborsi ini, bagaimana tidak!! Mereka yang mengandung dan mejadi rahim bagi para bakal bayi ini. Sedangkan, dilain pihak bakal bayi inilah yang akan dibunuh atau istilah lainnya digugurkan dengan sengaja sehingga menyebabkan efek samping yang mendalam bagi wanita yang melakukannya.
Aborsi memiliki resiko yang tinggi terhadap kesehatan maupun keselamatan seorang wanita. Tidak benar jika dikatakan bahwa jika seseorang melakukan aborsi ia ?tidak merasakan apa-apa dan langsung boleh pulang?. Ini adalah informasi yang sangat menyesatkan bagi setiap wanita, terutama mereka yang sedang kebingungan karena tidak menginginkan kehamilan yang sudah terjadi.
Ada 2 macam resiko kesehatan terhadap wanita yang melakukan aborsi:
1. Resiko kesehatan dan keselamatan secara fisik
2. Resiko gangguan psikologis

Resiko kesehatan dan keselamatan fisik
Pada saat melakukan aborsi dan setelah melakukan aborsi ada beberapa resiko yang akan dihadapi seorang wanita, seperti yang dijelaskan dalam buku ?Facts of Life? yang ditulis oleh Brian Clowes, Phd yaitu:
1. Kematian mendadak karena pendarahan hebat
2. Kematian mendadak karena pembiusan yang gagal
3. Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan
4. Rahim yang sobek (Uterine Perforation)
5. Kerusakan leher rahim (Cervical Lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya
6. Kanker payudara (karena ketidakseimbangan hormon estrogen pada wanita)
7. Kanker indung telur (Ovarian Cancer)
8. Kanker leher rahim (Cervical Cancer)
9. Kanker hati (Liver Cancer)
10. Kelainan pada placenta/ari-ari (Placenta Previa) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya dan pendarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya
11. Menjadi mandul/tidak mampu memiliki keturunan lagi (Ectopic Pregnancy)
12. Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease)
13. Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis)

Resiko kesehatan mental
Proses aborsi bukan saja suatu proses yang memiliki resiko tinggi dari segi kesehatan dan keselamatan seorang wanita secara fisik, tetapi juga memiliki dampak yang sangat hebat terhadap keadaan mental seorang wanita.
Gejala ini dikenal dalam dunia psikologi sebagai ?Post-Abortion Syndrome? (Sindrom Paska-Aborsi) atau PAS. Gejala-gejala ini dicatat dalam ?Psychological Reactions Reported After Abortion? di dalam penerbitan The Post-Abortion Review (1994).
Pada dasarnya seorang wanita yang melakukan aborsi akan mengalami hal-hal seperti berikut ini:
1. Kehilangan harga diri (82%)
2. Berteriak-teriak histeris (51%)
3. Mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi (63%)
4. Ingin melakukan bunuh diri (28%)
5. Mulai mencoba menggunakan obat-obat terlarang (41%)
6. Tidak bisa menikmati lagi hubungan seksual (59%)
Diluar hal-hal tersebut diatas para wanita yang melakukan aborsi akan dipenuhi perasaan bersalah yang tidak hilang selama bertahun-tahun dalam hidupnya.